Arif Merasa Lega Dengan Gelar Guru Besar

Berdasarkan keputusan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, yang dimulai pada Oktober 2019, Arif Satria, yang sekarang bertindak sebagai rektor IPB atau Kanselir, telah ditunjuk sebagai guru besar tetap kebijakan ekologi di IPB. Arif merasa lega dengan gelar ini karena itu adalah mimpi sejak awal sebagai dosen IPB. “Pada saat yang sama, saya membayar janjiku kepada orang tuaku. Sejauh ini, saya tidak bisa membayar semua cinta orang tuaku kecuali dengan pekerjaan semacam ini. Saya berharap gelar guru besar ini dapat membuat orang tua bahagia dan bangga,” Arif kata Arif dalam pernyataan, Jumat 25 Oktober 2019.

Setiap kali orang tua Arif selalu bertanya kapan dia akan mencapai puncak akademik tertinggi sebagai seorang guru besar. Dengan gelar ini, Arif merasa terdorong untuk lebih produktif dalam menghasilkan karya akademik. Seorang guru besar bukanlah akhir dari perjalanan akademis, tetapi kita harus menganggapnya sebagai awal dari sebuah perjalanan. Jadi harus ada tindak lanjut yang lebih baik di masa depan. Namun, ia dibesarkan oleh IPB. Sudah saatnya baginya untuk terus bekerja demi kemajuan IPB. Arif Satria lahir di Pekalongan, Jawa Tengah pada 17 September 1971 di Faruk Hasan dan Sri Utami. Putra kedua dari tiga bersaudara yang satu ini menikah dengan wanita bernama Retna Widayawati dan diberkati dengan seorang putra yang bernama Zafran Akhmadery Arif yang sudah berumur 20 tahun dan juga seorang putri Sweetyandari Nidya Areefa (10 tahun).

Ayah dua anak ini menyelesaikan pendidikan formalnya dari sekolah dasar hingga sekolah menengah di Pekalongan. Arif adalah siswa yang sangat baik, terbukti dengan menjadi siswa SMP 1 teladan pada tahun 1986 dan seorang siswa SMP teladan pada tahun 1989. Selain bukti akademik, Arif menunjukkan keterampilan kepemimpinannya sebagai ketua dewan siswa sejak SMA. Pada tahun 1990, Arif Satria melanjutkan studinya di IPB melalui Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Selama masa kemahasiswaannya, ia aktif sebagai pemimpin mahasiswa, seperti Biro Senat Mahasiswa IPB, direktur nasional dan salah satu pendiri Asosiasi Mahasiswa Internasional Indonesia dalam Ilmu Pertanian dan Terkait (IAAS).

Lulus dari departemen pertanian sosial ekonomi Fakultas Pertanian IPB pada tahun 1995, Arif kemudian melanjutkan studinya di IPB Rural dan lulus pada tahun 1999 dan menyelesaikan gelar Ph.D. Program Kebijakan Kelautan, Universitas Kagoshima, Jepang pada tahun 2006. di Fakultas Perikanan di IPB pada tahun 1997, kemudian pada tahun 2019 gelar guru besar tetap di Fakultas Ekologi Manusia IPB di bidang ekologi politik. Sejauh ini ia telah melatih 43 ilmuwan, 48 master dan 14 dokter. Selain tugas utamanya sebagai guru, Arif diberi mandat sebagai kepala IPB pada 2017 untuk periode 2017-2022. Sebelumnya ia menjabat sebagai dekan FEMA selama 2 periode (2010-2017).

Posisi lain di IPB termasuk Direktur Penelitian dan Studi Strategis di IPB (2008-2010), Sekretaris Kependudukan, Departemen Pertanian dan Ekologi Politik, Divisi Ilmu Komunikasi dan Pengembangan Sosial IPB (2007-2010), Kepala Departemen Pemberdayaan Masyarakat Pesisir, Pusat Penelitian Pesisir dan Laut (PKSPL) IPB (2006-2008), Kepala Program Pertanian Komunitas Pesisir, Pusat Penelitian Pertanian (PKA) IPB (1999-2002), Sekretaris 2 Departemen Sosial Perikanan Ekonomi, Fakultas Perikanan IPB (1998-2002), sekretaris Lembaga Informasi Eksekutif (LSI) IPB (1997-2000) dan Sekretaris Kanselir IPB (1996-1997).

Arif Satria juga memegang sejumlah posisi di lembaga atau organisasi lain. Dari 2018 hingga sekarang ia adalah Komisaris Utama PTPN Holding. Rektor muda yang satu ini juga menjabat sebagai penasehat Menteri Kelautan dan juga Perikanan periode (2012-2019), anggota Dewan Manajemen Perikanan Indonesia (2013-2017), anggota Dewan Maritim Indonesia (2013-2017), anggota Komisi Tunisia Indonesia (2012-2014), wakil presiden Asosiasi Internasional Ilmuwan Indonesia (2009-2011), anggota Komisi Nasional untuk Penelitian tentang Stok Ikan (2008-2011), kelompok ahli Menteri Kelautan dan Perikanan (2001-2002).